Tradisi Wiwit Kopi digelar para petani Desa Colo Kudus. (Murianews/Istimewa)

Bagi para pencinta kopi, menyeruput secangkir kopi Muria yang memiliki aroma khas earthy dan spicy adalah sebuah kemewahan rasa. Namun, di balik kelezatan komoditas unggulan dari utara Jawa Tengah ini, terdapat untaian kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar proses sangrai (roasting) atau seduh (brewing). Di lereng Gunung Muria, khususnya di wilayah Kabupaten Kudus dan Jepara, awal dari setiap cangkir kopi yang Anda nikmati dimulai dengan sebuah ritual sakral bernama Tradisi Wiwit Kopi.

Wiwit Kopi adalah upacara adat yang menandai dimulainya musim panen raya kopi. Lebih dari sekadar selebrasi memetik buah merah pertama, tradisi ini adalah simbol hubungan harmonis antara manusia, pencipta, dan alam raya yang telah menghidupi masyarakat lereng Muria selama lintas generasi.

Akar Sejarah dan Filosofi “Wiwit”

Kata wiwit dalam bahasa Jawa memiliki arti “mulai” atau “permulaan”. Secara historis, tradisi wiwit awalnya lebih lekat dengan komoditas padi (Wiwit Pari) sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri. Namun, ketika komoditas kopi mulai merambah dan menjadi urat nadi perekonomian masyarakat di lereng Gunung Muria sejak zaman kolonial Belanda, masyarakat melakukan adaptasi budaya. Mereka menerapkan nilai-nilai spiritual yang sama ke dalam budidaya kopi.

Bagi petani kopi Muria, kebun kopi bukanlah pabrik industri yang diperas hasilnya tanpa henti. Kebun adalah ruang hidup. Tradisi Wiwit Kopi menjadi pengingat bahwa hasil bumi yang melimpah bukan semata-mata karena kehebatan pupuk atau teknik bertani, melainkan karena kemurahan Tuhan yang dialirkan melalui kesuburan tanah vulkanik Gunung Muria.

Prosesi Ritual: Dari Doa di Tengah Kebun hingga Kepungan

Tradisi Wiwit Kopi biasanya digelar secara gotong royong oleh kelompok tani atau masyarakat desa setempat saat hamparan buah kopi mulai memerah (berwarna ceri), biasanya jatuh antara bulan Mei hingga Juli setiap tahunnya. Prosesi ini umumnya terbagi dalam beberapa tahapan penting:

Memetik Sang Juara: Bersih Diri dan Pilih Ceri Merah Terbaik

Ritual dimulai di pagi buta. Sesepuh adat atau ketua kelompok tani memimpin para petani masuk ke area kebun yang paling tua atau dianggap sebagai “pohon induk”. Sebelum memetik, mereka melantunkan doa-doa keselamatan dan ungkapan syukur, memohon agar proses panen berjalan lancar tanpa ada petani yang cedera atau diganggu hewan liar.

Petikan pertama dilakukan secara simbolis oleh tokoh adat. Buah kopi yang dipilih haruslah buah kopi yang benar-benar matang, merah sempurna, dan bebas dari cacat. Buah-buah perdana ini lantas diletakkan di dalam wadah khusus yang dihiasi daun pisang atau kain jarik, sebagai simbol penghormatan.

Sajian Ubo Rampe (Sesaji) yang Kaya Makna

Tidak ada tradisi Jawa tanpa kehadiran kuliner ritual atau ubo rampe. Dalam Wiwit Kopi, masyarakat menyiapkan nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya, seperti:

  • Ayam Ingkung: Ayam kampung utuh yang dimasak ingkung, melambangkan kepasrahan diri manusia di hadapan Sang Pencipta.
  • Kluban (Urap): Aneka sayuran yang dicampur parutan kelapa, menyimbolkan keragaman masyarakat yang menyatu dalam keharmonisan.
  • Bubur Merah Putih: Perlambang asal-usul kehidupan manusia (ibu dan ayah) serta keseimbangan alam.
  • Jajan Pasar dan Kopi Tubruk Muria: Disajikan hangat sebagai bentuk “kulonuwun” atau permisi kepada para leluhur yang dahulu membuka lahan perkebunan tersebut.

Doa Bersama dan “Kepungan”

Setelah ubo rampe ditata di tengah kebun, masyarakat duduk bersila mengitarinya (kepungan). Seorang tokoh agama atau modin akan memimpin doa, yang uniknya sering kali memadukan asma-asma Islam (dzikir dan salawat) dengan mantra-mantra Jawa kuno. Hal ini mencerminkan corak Islam Nusantara yang sangat kental di kawasan sekitar Makam Sunan Muria.

Usai doa dikumandangkan, tumpeng pun dipotong dan dimakan bersama-sama oleh seluruh warga yang hadir. Di sinilah esensi sosial dari Tradisi Wiwit Kopi memuncak: tidak ada sekat antara pemilik lahan kaya dan buruh petik; semua makan dari wadah yang sama, merayakan datangnya rezeki bersama.

,


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Search

About

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book.

Lorem Ipsum has been the industrys standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown prmontserrat took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged.

Gallery