Keberadaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) sebagai predator puncak di Pulau Jawa terus menjadi fokus utama upaya konservasi, tak terkecuali di kawasan Gunung Muria. Ekosistem hutan Muria sebelumnya sempat terdampak hebat oleh era Reformasi 1998, yang memicu pembukaan lahan besar-besaran oleh masyarakat. Kini, langkah nyata perlindungan habitat satwa langka ini mulai membuahkan hasil berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Djarum Foundation dan tim Peka.

Mas Fawas, perwakilan dari Djarum Foundation, menceritakan perjalanan panjang memulihkan habitat macan tutul di kawasan tersebut. Langkah awal dilakukan dengan menghentikan ekspansi lahan secara persuasif, yakni memfasilitasi masyarakat di perbatasan hutan dengan tanaman serbaguna (sistem agroforestri) seperti pohon durian dan petai.

“Untuk kawasan inti, kami melakukan rehabilitasi dengan menanam tanaman hutan yang bermanfaat untuk pakan hewan liar. Kami juga sangat konsen pada perlindungan mata air, kemudian bekerja sama dengan komunitas Peka,” jelas Fawas saat diwawancarai tim National Geographic Indonesia.

Jejak Sang Predator dan Tantangan Pemasangan Kamera

Keterlibatan langsung di lapangan membawa pengalaman tak terlupakan bagi Fawas. Saat menelusuri jalan setapak di sebuah desa di kawasan Jepara, tim menemukan bukti kuat keberadaan sang predator eksotis tersebut.

“Pertama kali ikut ke desa di Jepara lewat jalan setapak, kita dapat fesesnya. Beneran nih ada macan tutul! Hal itu membuat saya terkejut, senang, dan campur aduk,” ungkapnya.

Guna mendata populasi secara akurat, tim mengerahkan upaya ekstra dengan memasang 80 unit camera trap (kamera jebakan) di 40 grid (titik pantau) kawasan Muria. Proses ini penuh perjuangan fisik. Tim harus rela kehujanan, jatuh, hingga terpeleset di medan yang sulit demi mendapatkan hasil.

Sayangnya, tantangan di lapangan tidak hanya datang dari alam. Fawas membeberkan bahwa sebagian masyarakat masih salah paham terhadap fungsi kamera tersebut.

“Ada problem di mana kamera pantau itu dianggap sebagai alat untuk memata-matai. Sebagian dirusak, bahkan dicuri karena kekhawatiran warga. Mereka takut kalau terekam beraktivitas di dalam hutan, datanya akan digunakan untuk hal yang merugikan mereka,” tuturnya.

Keberhasilan Program JWLS dan Optimisme 50 Tahun ke Depan

Meski penuh kendala, program Javan Wildlife Landscape (JWLS) berhasil memberikan bukti konkret dari lapangan bahwa predator puncak di Pulau Jawa ini masih bertahan hidup.
Keberhasilan ini mendorong perluasan area pemantauan dari awalnya 40 unit menjadi 900 kamera yang kini tersebar di seluruh kantong habitat di Jawa.

Fawas juga tidak menampik adanya rasa lelah fisik dan mental dalam proses ini. Terkadang ada titik jenuh ketika temuan dari lapangan memakan waktu lama untuk dianalisis setibanya di kantor, mengingat tingginya intensitas kerja dan beratnya medan operasional. Namun, saat ditanya mengenai eksistensi macan tutul dalam 50 tahun ke depan, ia memancarkan optimisme yang kuat.

“Saya optimis macan tutul masih akan eksis. Asalkan ada kerja sama yang solid dengan masyarakat, orang lokal, serta melibatkan kelembagaan negara. Kolaborasi ini harus terus berjalan,” tegas Fawas.

Tahap selanjutnya dari pemantauan ini adalah memastikan jumlah dan rasio jenis kelamin satwa. Selain itu, ada rencana pemasangan GPS Collar (kalung pelacak). Langkah ini bertujuan untuk meneliti apakah wilayah jelajah seluas 10 hektare untuk 14 ekor macan tutul dapat memberikan dampak signifikan, baik secara ekologi maupun kaitannya dengan ekonomi warga di sekitarnya.

Harapan bagi Warga Sekitar Muria

Fawas berharap ke depannya paradigma masyarakat luas mengenai macan tutul dapat berubah total. Satwa yang di beberapa tempat kerap dianggap sebagai ancamanโ€”bahkan berisiko diracunโ€”sejatinya merupakan kunci keseimbangan ekosistem. Menjaga habitat mereka berarti mendatangkan keuntungan jangka panjang bagi kelestarian alam lingkungan manusia.

Bagi warga di sekitar wilayah Gunung Muria, Fawas menitipkan pesan khusus. “Bagi warga Kudus, Jepara, dan Pati, seharusnya merasa bangga karena masih ada macan tutul sebagai predator puncak yang hampir punah di alam mereka. Sebisa mungkin, mari kita ikut menjaga dan melestarikannya,” tutup Fawas.

Selain menyoroti upaya konservasi macan tutul, rangkaian liputan dan dokumentasi eksklusif tim di kawasan Gunung Muria ini juga merekam berbagai dinamika sosial-budaya setempat. Tim dari Natgeographic Indonesia melakukan wawancara mendalam bersama Mbah Tur selaku Pembina Yayasan Masjid Makam Sunan Muria, serta berdialog dengan tokoh lokal, Bapak Saiful Amri.

Proses dokumentasi ditutup dengan pengambilan gambar matahari terbenam (sunset) yang eksotis, diiringi sesi wawancara bersama seluruh anggota tim lapangan yang tergabung dalam program JWLS



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *